Demi Menghidupi Anak-Anaknya, Ibu Paruh Baya Ini Tak Malu Jadi ”Pak Ogah”
Bisa dibilang, Tutiana (46), warga Cilengkrang II, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, adalah wanita kuat. Kuat dalam arti sesungguhnya. Ia melakoni pekerjaan yang biasa orang-orang sebut “Pak Ogah”.
Ibu dari empat orang anak ini sudah menjalani profesi tersebut selama sepuluh tahun. Dirinya pun tak pernah merasa malu dengan pekerjaannya saat ini. Semua dia lakukan semata-mata hanya untuk keluarga.
“Dari 2010 saya di sini. Saya gak punya suami, anak-anak masih pada SD, jadi saya turun ke jalan, gak ada yang nyuruh,” ujar wanita yang akrab disapa Tuti itu.
Hidup tak berkecukupan membutnya sering diusir dari kontrakan yang dia tempati.
“Kalo gak bayar kontrakan udah keluar aja, sama yang punya kontrakan digituin,” keluh wanita asal Bogor ini.
Berperan bak polisi yang sedang mengatur lalu lintas, peluit yang ia bawa seakan tak penah berhenti berbunyi.
Membawa light stick sebagai penanda bahwa dia ada. Rompi berwarna orange dan topi caping yang ia gunakan untuk melindungi wajah dan kepalanya dari sinar matahari yang sering tak bersahabat.
Beberapa uang receh ia dapat dari pengendara mobil maupun motor. Dari pekerjaannya itu, penghasilan yang didapat tak menentu.
Jika sedang beruntung, ia bisa mendapatkan Rp 45 ribu hinggu Rp 50 ribu dalam sehari. Namun saat sedang sepi, dia hanya mampu membawa pulang uang sekitar Rp 25 ribu.
“Dikasih syukur gak dikasih juga Alhamdulillah, mau gimana lagi,” jelasnya.
Tak hanya itu, dia juga menjual koran yang dititipkan oleh agen. Dalam satu hari ia bisa menjual 20 eksemplar.
Hasil nya tak seberapa, 200 rupiah keuntungan yang didapat dari satu eksemplar. Setiap satu minggu sekali ia menyetorkan hasil jualannya.
“Kadang habis kadang nggak jualan koran juga, karena lagi sepi, gak ada bola, kalo ada bola bisa empat puluh lembar,” ujarnya.
Dia mulai bekerja sejak pukul 6 pagi. Bila waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, Tuti pulang ke rumahnya membawa hasil keringatnya. Uang yang dibawa, dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hingga kini, di usianya yang hampir setengah abad, tak ada pekerjaan lain yang bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya.
Sebelumnya, ia penah menjadi tukang cuci gosok di perumahan Cilengkrang. Namun penghasilan yang hanya Rp 200 ribu perbulan tak mampu memenuhi kebutuhannya, dan memilih berhenti dari pekerjaan itu.
Dengan resiko terserempet, tertabrak, bahkan kehilangan nyawa sekalipun, tak Tuti hiraukan. Semua ini dilakukannya dengan penuh keikhlasan.
“Mau diapain lagi, saya rido iklas lillahita’ala karena Allah”, tutupnya.
